10 Desember, 2009

28 koperasi di Pidie Jaya bangkrut

MEUREUDU - Sebanyak 28 unit dari 173 koperasi yang ada dan tersebar di sejumlah kecamatan di kabupaten Pidie Jaya dilaporkan bangkrut atau tidak beroperasi lagi dengan berbagai alasan. Sementara 141 koperasi lainnya belum melakukan rapat anggota tahunan (RAT) sehingga tidak diketahui perkembangan usaha tersebut.

Berdasarkan data yang diperoleh Waspada dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop dan UKM) kabupaten Pidie Jaya, tadi malam, di kabupaten itu tercatat 173 unit koperasi. Sebanyak 153 dari jumlah itu merupakan koperasi warisan dari kabupaten induk (Pidie).

“Dari 173 koperasi tersebut, hanya 45 koperasi yang aktif dan 28 tidak aktif dengan berbagai alasan. Sebenarnya, koperasi-koperasi yang masih aktif itu, diwajibkan membuat RAT (Rapat Anggota Tahunan), tapi sampai sekarang baru 21 koperasi yang sudah membuat RAT, “ jelasnya.

08 Desember, 2009

Pidie Jaya miliki SRG pertama

MEUREUDU - Kabupaten Pidie Jaya yang belum berusia tiga tahun setelah pisah dari kabupaten induk (Pidie), kini merupakan satu-satunya kabupaten/kota di Aceh yang memiliki gudang penyimpanan komoditas hasil bumi dengan sistem resi gudang (SRG).

Gudang tersebut sedang dibangun dengan dana program stimulus fiskal 2009 di Kecamatan Trieng Gadeng, Pidie Jaya, dalam pengawasan pihak Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop dan UKM)).

Kepala Disperindagkop dan UKM kabupaten Pidie Jaya, HM Jalil Basyah, mengatakan, dengan adanya gudang tersebut diharap petani dapat menyimpan hasil buminya, semisal gabah (padi), beras, jagung, kakao, kedelai, rumput laut, di saat harganya turun alias anjlok, untuk selanjutnya dijual kembali saat harganya tinggi.

05 Desember, 2009

Chikungunya meluas di Pidie Jaya

MEUREUDU - Jika sebelumnya penderita hanya sekitar puluhan orang, kini penyakit chikungunya (flu tulang) semakin meluas dan menyerang skira 369 warga di dua kecamatan wilayah kabupaten Pidie Jaya.

“Hingga kini berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie Jaya, warga yang terserang wabah cikungunya mencapai 369 orang, tersebar di dua kecamatan yakni Pante Raja dan Bandar Baru,“ ungkap sumber di Dinkes Pidie Jaya, sore ini.

Berdasarkan data Dinkes, ke-369 penderita terdapat kecamatan Pante Raja 31 orang, Bandar Baru 338. Penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk Aedes Aegypti telah membuat warga ketakutan dan resah. Mereka minta pemerintah mengambil langkah antisipasi seperti melakukan fogging.

04 Desember, 2009

Ratusan hektar kakao di Pidie Jaya diserang hama

MEUREUDU - Ratusan petani di sejumlah kecamatan dalam daerah kabupaten Pidie Jaya dan Pidie, mengeluhkan kondisi kehidupannya. Pasalnya, ratusan hektar tanaman kakao (coklat), dilaporkan sudah empat tahun lebih diserang hama penyakit.

“Meski pemerintah telah mengalokasikan dana untuk membasmi hama penyakit tersebut, namun ratusan hektar tanaman yang sebelumnya sangat menjanjikan itu tersebar di berbagai kecamatan masih belum bisa tertolong dan terlepas dari serangan penyakit,” kata, Ruslan, warga Cubo Kayee Jatoe, tadi pagi.

Dikatakan, sudah banyak warga di kecamatan Bandar Baru yang menikmati hasil panen tanaman kakao. Bahkan, banyak pula diantara mereka yang sudah mampu menunaikan ibadah haji dari hasil penjualan biji kakao terutama di saat krisis moneter terjadi.

02 Desember, 2009

Proyek Siluman kian menjamur di Pidie Jaya

MEUREUDU - Proyek siluman (proyek tanpa papan nama) di kabupaten Pidie Jaya kian menjamur. Akibatnya, pengerjaan proyek kerap mengganggu arus lalulintas karena material seperti pasir, batu, ditumpuk sembarangan di badan jalan.

“Tampaknya hal itu ssudah menjadi kebiasaan dari kontraktor dan keteledoran dinas terkait yang ditugaskan mengawasi pelaksanaan proyek, sehingga setiap pembangunan dilakukan tanpa memikirkan ketentraman masyarakat," kata warga Trienggadeng, Ahmad, tadi malam.

Perihal ini menggambarkan kurangnya etika dan tidak profesionalnya kontraktor dalam bekerja dan lemahnya pengawasan dari instansi pemerintah. ”Setiap pembangunan memiliki aturan yang telah ditetapkan. Seperti yang diatur dalam Keppres 80,“ tandasnya.

01 Desember, 2009

MTR terancam gagal di Pidie Jaya

ULEE GLE – Belum diperbaikinya tiga seuneulhop (bendungan) irigasi di Ulee Gle, kecamatan Bandar Dua, kabupaten Pidie Jaya, yang ambruk diterjang banjir beberapa waktu lalu, mengakibatkan Musim Tanam Rendengan (MTR) 2009/2010 terancam gagal.

Terkait kondisi ketiga unit irigasi tradisional (pedesaan) yang mengalami rusak total, menyebabkan para petani mengeluh karena lahan sawah mereka kering kerontong sehingga terancam gagal ditanami padi.

"Padahal, kami sudah siap-siap untuk turun ke sawah mengolah tanah dalam menghadapi MTR yang setahun sekali itu. Tapi, mengingat kondisi seuneulhop yang masih dibiarkan ambruk. Kami khawatir di tengah perjalanan musim tanam nanti lahan dan tanaman padi akan kekeringan, “ ungkap seorang tokoh tani, Mustafa, kepada Waspada, tadi malam.

Jika tidak segera mendapat perbaikan, katanya, hampir dapat dipastikan ribuan petani di wilayah yang selama ini mendapat suplai air dari bendungan tersebut, akan kehilangan mata pencaharian, dan rawan pangan pun akan bisa terjadi.

25 November, 2009

Merekam Jejak Abdullah Puteh

JIKA tidak tersandung kasus Helikopter MI-2 Buatan Rostov, Rusia, sepertinya, nama Abdullah Puteh akan berada pada deretan nama-nama orang yang berjasa dalam meretas penyelesaian konflik di Aceh. Selaku Gubernur Nangroe Aceh Darussalam saat itu, ia adalah orang yang paling berkuasa di Aceh. Puteh termasuk getol dan terlibat aktif dalam sosialisasi sembilan pasal kesepakatan penghentian permusuhan (The Cessation of Hostilities Agreement), pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang telah didatangani 9 Desember 2002.

Seperti pepatah, karena nila setitik rusak susu sebelanga, itu yang dialami Abdullah Puteh. Meski banyak kontribusinya untuk Aceh, termasuk pemberlakusan syariat Islam, tetapi nama Puteh tenggelam dalam pusaran informasi korupsi ketimbang jasa-jasa untuk Aceh. Seperti apa sesungguhnya profil lelaki kelahiran Meunasah Arun ini? Abdullah Puteh Lahir di Meunasah Arun, Idi, Aceh Timur, 4 Juli 1948. Menghabiskan masa kecil di Idi. Di sana pula ia menamatkan sekolah rakyat dan sekolah menengah pertamanya. Sementara masa remajanya dilalui di Langsa, Aceh Timur, sambil menamatkan sekolah menengah atas. Walau dimanja, bungsu dari lima bersaudara ini sejak kecil belajar hidup prihatin. Untuk menambah biaya sekolah, ia berjualan telur di pasar atau menjajakan nasi bungkus di stasiun kereta api. Di rumah indekos,

24 November, 2009

27 desa di Pidie Jaya belum terima BKPG

MEUREUDU – Meski sudah memasuki akhir bulan November 2009, sebanyak 27 desa di kecamatan Trienggadeng, Pidie Jaya, dilaporkan belum menerima dana Bantuan Keuangan Peumakmue Gampong (BKPG) dari provinsi. Keterlambatan itu diduga akibat kesalahan penulisan nama desa yang ada di kecamatan tersebut.

“Walaupun kesalahannya beberapa desa saja, resikonya untuk satu kecamatan. Seperti di kecamatan Trienggadeng, ada yang salah ketik desa. Misalnya, ada ketikan desa Meunasah Mee, Pangwa. Sedangkan pada stempel geuchik hanya ditulis desa Meunasah Mee. Tidak perlu menambah Pangwa, walau desa itu berada di Kemukiman Pangwa,” jelas kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) Pidie Jaya, Ilyas Yusuf, tadi sore.

12 November, 2009

Menengok Kebotakan Hutan Pidie

Setelah perdamaian atau lahirnya MoU Helsinki 2005 lalu, aksi pembalakan liar justru semakin ganas. Ini dibuktikan dengan hasil operasi gabungan yang digelar pada beberapa bulan lalu oleh pihak dinas Kahutanan dan Perkebunan Kabupaten Pidie. Dari jumlah luas hutan di Kabupaten Pidie, sekitar 185.964 hektare merupakan hutan lindung. Selebihnya, hutan produksi 43.633 ha dan areal lainnya 93.533 ha. Namun, hingga kini, belum bisa dipastikan berapa hektare yang telah dibotakkan terutama pascadamai Aceh.

“Sejauh ini kita belum mengetahui secara pasti angka hutan kita yang telah dibotakkan (digunduli) oleh para pembalak liar. Sebab, para pembalak tersebut dalam melakukan aksi liar itu hanya mengandalkan lokasi secara tebang pilih,” sebut Kadis Kehutanan dan Perkebunan Pidie, Ir Amin Affan MSi, kepada Kontras, pekan lalu via telepon selulernya.

Tras Utama: Siapa Gunduli Hutan Aceh?

Kebijakan jeda tebang telah digulir sejak tahun 2007. Ribuan pasukan ‘penjaga hutan’ juga telah direkrut oleh Pemerintah Aceh. Lalu, mengapa masih banyak penebangan liar?

Meski telah memakai payung, masih juga basah oleh air hujan. Analogi ini tampaknya tepat dengan situasi hutan di Aceh saat ini. Ketika Pemerintah menerapkan kebijakan Moratorium Logging (jeda tebang sementara) pada tanggal 6 Juni 2007, melalui Instruksi Gubernur No 5 Tahun 2007, ternyata degradasi atau kemerosotan hutan semakin parah. Berdasarkan gejala yang timbul hingga saat ini, sejumlah elemen masyarakat yakin akan adanya peningkatan kerusakan hutan di Aceh.

04 November, 2009

Silaturahmi Aceh Rasa Qatar

SILATURAHMI menjadi ciri khas bagi masyarakat Aceh. Nenek moyang selalu mengamanahkan, silaturahmi tanda persaudaraan. Silaturahmi pula yang menjadi pengerat masyarakat Aceh di Al Khor, Doha, Qatar. Sebanyak 100 kepala keluarga (KK) warga Aceh menetap di distrik Al Khor. Mereka umumnya bekerja pada bidang perminyakan. Sudah puluhan tahun mereka menetap di Timur Tengah. Kangen, kampung halaman disiasati dengan mendirikan organisasi Masyarakat Serambi Mekkah (Masmekkar).

Meluangkan waktu bersilaturahmi bagi masyarakat Aceh di Qatar memang tidak mudah. Jam kerja yang sangat padat, membuat mereka harus membuat kesepakatan kapan akan melakukan silaturahmi. “Silaturahmi yang tak putus, mengurangi rasa rindu kampung halaman,” kata Bustami Asyek, asli warga Desa Keutapang, Kota Banda Aceh, yang kini bekerja di bidang perminyakan di Qatar, saat dihubungi Kontras, Kamis (22/10).

03 November, 2009

Undangan Halal Bi Halal

HADIRILAH BERAMAI-RAMAI

UNDANGAN

PENGURUS PUSAT TAMAN ISKANDAR MUDA

MENGUNDANG BAPAK/ IBU/ SAUDARA, WARGA ACEH JABODETABEK & BANTEN, UNTUK MENGHADIRI

HALAL BI HALAL

MASYARAKAT ACEH JABODETABEK & BANTEN,

PADA :

HARI : MINGGU, 15 NOVEMBER 2009

PUKUL : 08.30 WIB – SELESAI

TEMPAT : GEDUNG ISTORA, SENAYAN – JAKARTA.

INSYA ALLAH AKAN DIHADIRI OLEH :

BAPAK PRESIDEN/ BAPAK WAKIL PRESIDEN

REPUBLIK INDONESIA,

PARA MENTERI KABINET INDONESIA BERSATU II, GUBERNUR ACEH, GUBERNUR DKI, PARA DUTA BESAR NEGARA SAHABAT, PARA TOKOH ACEH/ NASIONAL, SERTA RIBUAN WARGA ACEH SE-JABODETABEK DAN BANTEN.

HIBURAN : SEUDATI TUNANG (Sjech Cut Manyak dari Aceh Utara Vs Sjech Binaan TIM-Jakarta), RAPA’I GELENG, SAMAN, DAN PEMBACAAN PUISI OLEH TAUFIK ISMAIL.

JUGA DIADAKAN BAZAR MAKANAN DAN KERAJINAN ACEH

Untuk transportasi bagi yang tidak menggunakan kendaraan sendiri,

silahkan menghubungi Cabang TIM masing-masing.

(Disediakan Makan Siang)

28 Oktober, 2009

Perempuan Keumala

Judul : PEREMPUAN KEUMALA Sebuah Epos untuk Nanggroe
Penulis : Endang Moerdopo
Penerbit: PT Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo), Jakarta
Tebal : 350 halaman
Harga : Rp 60.000

PERNAH terjadi polemik di sebuah situs; manakah yang dimaksud dengan karya sastra Aceh? Apakah karya yang dihasilkan penulis lokal Aceh, penulis asal Aceh, atau penulis luar yang menulis tentang Aceh, atau karya yang mengangkat khazanah budaya Aceh dengan menyelipkan frasa Aceh di dalamnya kendati kadang tak terlalu substansial?

14 Oktober, 2009

Prof Dr H Farid Wajdi Ibrahim: Kami Tetap pada Jalur Akademis

Farid Wadji terpilih sebagai Rektor IAIN Ar-Raniry dalam proses pemilihan yang demokratis. Saat itu ada empat balon rektor yang bersaing. Keempat balon rektor yang memperebutkan kursi pucuk pimpinan di lembaga pendidikan tinggi tersebut masing-masing, Prof Dr H Farid Wajdi Ibrahim MA (Dekan Fakultas Tarbiyah), Dr Nazaruddin A Wahid MA (Dekan Fakultas Syariah), Dr Cut Aswar MA (Pudek I Fakultas Tarbiyah), dan Dr A Rani Usman MSi (Pudek IV Fakultas Dakwah). Mereka berkompetisi guna menggantikan Prof Dr Yusny Saby MA yang memasuki pensiun dan berakhir masa jabatan pada Juli 2009.

Dan akhirnya, putra Rokoh justru yang memenangkan “pertarungan” di hari Jumat, 9 Mei 2009. Dia meraih 26 suara, sementara rivalnya, Dr Nazaruddin A Wahid MA, hanya 19 suara. Dua sejawatnya lagi sama-sama tidak meraih suara. Farid dilantik sebagai Menteri Agama, Muhammad Maftuh Basyuni, Jumat (21/8), di Jakarta.

09 September, 2009

Jejak Aceh di Tanah Arab

Di dalam perjalanan ini, saya sempat berpikir apakah nama baik orang Aceh di Arab Saudi bisa sederajat dengan nama baik Aceh di Indonesia dan di seluruh dunia. Yang menarik adalah hampir semua negara yang saya kunjungi, nama Aceh selalu dihormati dan dipandang sebagai bagian dari peradaban dunia...

MENJELANG bulan Ramadan ini, tepatnya tanggal 18 Agustus saya melakukan ibadah umrah bersama-sama dengan beberapa kerabat di Banda Aceh. Sebagai bagian dari rombongan yang dikoordinasikan oleh Ce’Man Tour and Travel, saya memiliki beberapa refleksi mengenai bagaimana sesungguhnya hubungan Arab dan Aceh. Dalam laposan singkat ini, saya ingin menjelaskan bagaimana hubungan kedua negeri ini, hingga saya sendiri tidak pernah menduga betapa beruntungnya menjadi orang Aceh di tanah Suci ini. Ketika tiba di Jeddah, jam 17.55 waktu Saudi (21.55 wib), karena prosedur yang agak ketat yang baru diberlakukan awal Agustus tahun ini. Peraturan tersebut adalah seluruh pengunjung yang masuk ke Saudi diwajibkan sekarang ini diambil sidik jari, dan di photo satu persatu. Namun, prosedur ketat ini tidak dibarengi dengan penambahan karyawan imigrasi. Sambil menunggu dan duduk duduk dilantai saya mencoba membersihkan jenggot dan kumis saya. Rupanya tindakan ini mengundang kecuriagaan dari peugas imigrasi lebih ketat lagi. Lalu, dengan bahasa Arab terbata bata, saya jelaskan bahwa saya cukur jenggot sambil mengisi waktu kosong, karena lamanya menunggu di Imigrasi. Pegawai imigrasi menanyakan asal saya, kemudian saya menjawab :”Asyi”, sebuah sebutan marga Aceh dikalangan orang Arab.